Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124
Physical Address
304 North Cardinal St.
Dorchester Center, MA 02124


Dalam proses rekrutmen, tujuan utama pewawancara adalah memprediksi kesuksesan seorang kandidat di masa depan berdasarkan pengalaman masa lalunya. Model wawancara tradisional yang hanya berfokus pada pertanyaan hipotesis atau daftar riwayat hidup seringkali gagal mencapai tujuan ini secara objektif. Untuk mengatasi keterbatasan ini, lahirlah Wawancara Berbasis Kompetensi (Competency-Based Interview/CBI), sebuah metode terstruktur yang menggali bukti perilaku spesifik masa lalu sebagai indikator kompetensi yang relevan dengan peran yang dilamar.
CBI berfokus pada ‘bagaimana’ kandidat menangani situasi tertentu, bukan hanya ‘apa’ yang mereka kerjakan. Metode ini menganggap bahwa perilaku masa lalu adalah prediktor terbaik untuk perilaku di masa depan. Bagi kita, baik sebagai profesional Human Resources (HR), manajer perekrut, atau bahkan job seeker yang ingin memahami proses penilaian yang adil dan objektif, menguasai prosedur CBI adalah keharusan untuk memastikan kualitas rekrutmen, meminimalkan hiring mistake, dan membangun tim yang benar-benar kompeten. Mari kita telaah tiga tahap utama yang membentuk prosedur Wawancara Berbasis Kompetensi yang efektif.
Keberhasilan Wawancara Berbasis Kompetensi terletak pada struktur dan objektivitasnya. Pewawancara harus melakukan persiapan matang, pelaksanaan terfokus, dan evaluasi yang sistematis. Tiga tahap berikut menjelaskan alur kerja ini.
Tahap Persiapan dan Penetapan Standar Kompetensi (Preparation and Competency Standard Setting): Sebelum bertemu kandidat, pewawancara harus jelas mengenai apa yang dicari dan bagaimana mengukurnya. Tahap ini meliputi:
Analisis Kebutuhan Jabatan: Menentukan kompetensi kunci (pengetahuan, keterampilan, dan sikap) yang mutlak diperlukan untuk sukses dalam peran tersebut. Misalnya, untuk peran manajerial, kompetensi yang dicari mungkin adalah kepemimpinan, problem solving, dan komunikasi persuasif.
Penyusunan Pertanyaan Probing: Menyusun serangkaian pertanyaan berbasis perilaku untuk setiap kompetensi kunci. Pertanyaan harus dibuka dengan kalimat yang meminta kandidat menceritakan situasi spesifik di masa lalu (misalnya, “Ceritakan situasi saat Anda harus…”).
Penyusunan Skala Penilaian (Rating Scale): Menentukan kriteria dan skala penilaian yang objektif untuk setiap kompetensi (misalnya, skala 1-5). Skala ini akan digunakan untuk membandingkan semua kandidat secara adil dan terukur.
Tahap Pelaksanaan Wawancara dengan Metode STAR (Execution Phase using the STAR Method): Pelaksanaan CBI yang efektif memerlukan penggunaan teknik probing yang terstruktur, yang paling populer adalah Metode STAR. Metode ini memastikan pewawancara mendapatkan detail yang relevan dari cerita kandidat. Pelaksanaan ini meliputi:
Menggali Situation dan Task (S dan T): Meminta kandidat menjelaskan secara jelas latar belakang (Situasi) dan tujuan atau tugas (Task) yang harus mereka capai. Ini penting untuk memahami konteks masalah.
Fokus pada Action (A): Ini adalah bagian paling penting. Pewawancara harus mendengarkan secara aktif dan menggunakan follow-up questions (misalnya, “Apa yang Anda lakukan secara pribadi?”) untuk memaksa kandidat menjelaskan tindakan spesifik yang mereka ambil, bukan tindakan tim mereka.
Mencatat Result (R): Meminta kandidat menjelaskan hasil (Result) dari tindakan mereka, diukur secara kuantitatif jika memungkinkan (misalnya, “Apakah proyek berhasil? Berapa persentase peningkatan yang Anda capai?”).
Tahap Penilaian dan Pengambilan Keputusan (Assessment and Decision Making Phase): Setelah wawancara selesai, data perilaku harus diubah menjadi skor yang dapat memandu keputusan rekrutmen. Tahap ini meliputi:
Penilaian Data Perilaku: Setiap jawaban kandidat dinilai berdasarkan bukti perilaku yang disajikan (terutama pada bagian Action). Hasil ini dipetakan ke dalam skala penilaian yang telah disiapkan di Tahap 1.
Integrasi Data Lintas Pewawancara: Jika ada beberapa pewawancara, skor dari setiap kompetensi harus digabungkan dan didiskusikan dalam sesi debriefing untuk mencapai konsensus objektif tentang kesesuaian kandidat.
Verifikasi Silang: Perilaku yang ditunjukkan dalam wawancara harus dicocokkan dengan hasil alat asesmen lain (misalnya, tes psikometri atau referensi) untuk mendapatkan gambaran kompetensi yang holistik.
Wawancara Berbasis Kompetensi adalah alat yang kuat karena ia meminimalkan bias subjektif pewawancara dan berfokus pada data perilaku yang keras. Dengan menerapkan prosedur ini secara disiplin, perusahaan dapat meningkatkan hiring success rate dan membangun kekuatan sumber daya manusia yang teruji.
Menguasai teknik penyusunan Standard Operating Procedure (SOP) Competency Dictionary untuk berbagai level jabatan, memahami cara efektif menyusun Standard Operating Procedure (SOP) sesi debriefing pasca-wawancara, serta mengembangkan skill problem solving yang melibatkan masalah mengatasi bias halo effect dan recency effect saat penilaian kandidat dan mengelola risiko pertanyaan wawancara yang melanggar hukum (illegal questions) membutuhkan program pengembangan yang terstruktur dan aplikatif. Jika ingin mendalami cara meningkatkan strategi probing question yang tajam, menguasai skill analisis kompetensi menggunakan Behavioral Event Interview (BEI), atau membangun fondasi mindset yang mendukung kinerja optimal di lingkungan manajemen talenta dan akuisisi, Anda memerlukan program pengembangan yang terstruktur.
Banyak profesional yang menyediakan panduan mendalam untuk mengoptimalkan diri dan meningkatkan nilai tambah teknis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program pengembangan di bidang wawancara berbasis kompetensi (CBI), manajemen talenta, dan teknik asesmen kandidat yang relevan dengan kebutuhan karir saat ini, silakan hubungi 085166437761 (SAKA) atau 082133272164 (ISTI).