FINANCIAL MODELLING UNTUK KAJIAN KELAYAKAN BISNIS (FEASIBILITY STUDY)

FINANCIAL MODELLING UNTUK KAJIAN KELAYAKAN BISNIS (FEASIBILITY STUDY)

FINANCIAL MODELLING UNTUK KAJIAN KELAYAKAN BISNIS (FEASIBILITY STUDY)

FINANCIAL MODELLING UNTUK KAJIAN KELAYAKAN BISNIS (FEASIBILITY STUDY)

Setiap ide bisnis atau proyek investasi besar, mulai dari pembangunan pabrik baru hingga peluncuran produk digital, memerlukan jawaban atas pertanyaan mendasar: Apakah ini layak secara finansial? Jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa didapatkan dari intuisi semata, melainkan dari proses analisis yang ketat dan sistematis yang dikenal sebagai Kajian Kelayakan Bisnis (Feasibility Study). Inti dari kajian ini adalah Financial Modelling, yaitu proses membangun representasi matematis dari kinerja keuangan proyek di masa depan.

Bagi kita, baik sebagai entrepreneur, analis investasi, manajer keuangan, atau eksekutif yang bertanggung jawab atas alokasi modal, penguasaan financial modelling adalah keterampilan esensial untuk menilai risiko, menentukan profitabilitas, dan meyakinkan stakeholder atau calon investor mengenai potensi pengembalian investasi. Model finansial berfungsi sebagai flight simulator bisnis, memungkinkan kita menguji berbagai skenario sebelum modal riil dikucurkan. Mari kita telaah tiga komponen kunci yang harus kita integrasikan dalam setiap model kelayakan proyek yang kuat.

Tiga Komponen Kunci Model Finansial Kelayakan Proyek

Sebuah model finansial yang kredibel untuk feasibility study harus mampu menerjemahkan asumsi pasar dan operasional ke dalam bahasa angka-angka keuangan. Tiga komponen kunci berikut adalah output standar yang harus dihasilkan oleh model tersebut.

  1. Proyeksi Tiga Laporan Keuangan Utama (Three Financial Statements Projection): Inti dari modelling adalah memproyeksikan neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas selama periode proyeksi (misalnya 5-10 tahun). Komponen ini meliputi:

    • Laporan Laba Rugi (Income Statement): Memproyeksikan pendapatan (revenue) berdasarkan asumsi volume penjualan dan harga, serta menghitung semua biaya operasional (Cost of Goods Sold/COGS dan Operating Expenses), hingga mencapai laba bersih (Net Income).

    • Neraca (Balance Sheet): Menunjukkan posisi aset, liabilitas, dan ekuitas pada akhir setiap periode, memastikan model seimbang.

    • Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement): Ini adalah laporan terpenting dalam feasibility study. Laporan ini melacak pergerakan kas masuk dan kas keluar dari aktivitas operasi, investasi (termasuk Capital Expenditure/Capex awal), dan pendanaan, untuk menentukan apakah proyek memiliki likuiditas yang cukup.

  2. Penilaian Investasi dan Metrik Pengambilan Keputusan (Investment Valuation and Decision Metrics): Komponen ini menggunakan data dari laporan arus kas untuk menghitung daya tarik finansial proyek. Metrik ini adalah hasil akhir yang akan disajikan kepada pengambil keputusan. Komponen ini meliputi:

    • Net Present Value (NPV): Menghitung nilai sekarang (present value) dari semua arus kas masuk di masa depan dikurangi arus kas keluar awal, didiskon menggunakan tingkat diskonto (discount rate) yang sesuai. Jika NPV positif, proyek dianggap layak secara finansial.

    • Internal Rate of Return (IRR): Menghitung tingkat diskonto di mana NPV proyek menjadi nol. Proyek dianggap layak jika IRR lebih besar dari Cost of Capital (biaya modal) yang ditetapkan perusahaan.

    • Payback Period: Menghitung waktu yang dibutuhkan agar arus kas kumulatif proyek dapat mengembalikan modal investasi awal. Metrik ini berfokus pada likuiditas dan risiko.

  3. Analisis Sensitivitas dan Skenario (Sensitivity and Scenario Analysis): Model yang baik tidak hanya memberikan satu angka hasil, tetapi harus mampu menguji ketahanan proyek terhadap perubahan asumsi pasar. Komponen ini meliputi:

    • Analisis Sensitivitas: Menguji bagaimana perubahan pada satu variabel kunci (drivers), seperti harga jual atau volume produksi, memengaruhi metrik utama (misalnya, NPV).

    • Analisis Skenario: Menguji dampak kombinasi beberapa perubahan variabel secara simultan, misalnya: Skenario Worst Case (harga rendah, biaya tinggi) dan Skenario Best Case (harga tinggi, biaya rendah).

    • Titik Impas (Breakeven Point): Menghitung titik penjualan minimum yang diperlukan agar proyek tidak mengalami kerugian. Analisis ini memberikan batas kritis yang harus dipertimbangkan oleh manajemen.

Financial Modelling: Mengubah Asumsi Menjadi Keputusan

Financial modelling yang dilakukan secara terstruktur, transparan, dan menggunakan asumsi yang realistis adalah alat yang paling andal untuk memandu feasibility study. Keakuratan model ini memungkinkan kita untuk mengidentifikasi risiko finansial tersembunyi, mengoptimalkan struktur pendanaan, dan pada akhirnya, memilih proyek yang benar-benar menciptakan nilai bagi organisasi.

Kembangkan Kompetensi Financial Modelling Anda

Menguasai teknik penyusunan financial model dari awal dengan best practice industri, memahami cara efektif menyusun Standard Operating Procedure (SOP) assumption gathering dari tim operasional, serta mengembangkan skill problem solving yang melibatkan masalah memvalidasi asumsi terminal value dalam DCF dan mengelola risiko fluktuasi suku bunga terhadap NPV membutuhkan program pengembangan yang terstruktur dan aplikatif. Jika ingin mendalami cara meningkatkan strategi pemodelan pendanaan proyek (project financing), menguasai skill membuat dashboard visualisasi metrik finansial, atau membangun fondasi mindset yang mendukung kinerja optimal di lingkungan analisis investasi dan corporate finance, Anda memerlukan program pengembangan yang terstruktur.

Banyak profesional yang menyediakan panduan mendalam untuk mengoptimalkan diri dan meningkatkan nilai tambah teknis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai program pemahaman soal financial modelling, kajian kelayakan bisnis, dan analisis investasi yang relevan dengan kebutuhan karir saat ini, silakan hubungi 085166437761 (SAKA) atau 082133272164 (ISTI).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *